P
ada Malam Dengan Keheningan dan GelapnyaDalam butiran cahaya bintang yang bertaburan
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai makluk bumi
Kucurahkan semua rasio ku tuk berfikir.....
Betapa kecilnya diriku ini.....
Seseorang diantara taburan manusia yang perpijak pada bumi
Betapa kecilnya bumi ini.....
Sebuah planet diantara taburan bintang dan galaksi
Betapa besarnya alam semesta ini......
Luas dan masih tak terjelajahi dengan teknologi masa kini
Betapa maha besarnya pencipta alam semesta ini.....
yang telah mencipta dengan keindahan dan harmoni
Pada Siang Dengan Keriuhan dan Terangnya
Dalam hiruk-pikuk aktifitas penduduk bumi
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai manusia
Kucurahkan semua rasio ku tuk memahami.....
Ku terlahir di dunia sebagai seorang bayi
Dalam asuhan dan bimbingan orang tua
Untuk belajar menjadi Khalifah di muka bumi
Dan beribadah kepada ALLAH yang maha ESA
Menjalani takdir ALLAH berupa Ujian dan Cobaan di dunia
Dibekali dengan Nafsu dan Akal Fikiran
Dituntun dengan kitab Alquran
Serta Alhadist melalui Rasul-NYA
Senang, susah, sedih, gembira
Menangis, tertawa, termenung, ceria
Pasrah, khawatir, ikhlas, kecewa
Resah, tenang, derita, bahagia
Dinamika kehidupan dalam pasangan rasa
Tertahta dalam hati sebagai nuansa
terwujud dalam tindakan dan aksi
dalam diri seorang pribadi
Kebaikan....akan dibalas dengan kebaikan
Kejahatan...akan dibalas dengan kejahatan
Itulah hukum yang berlaku bagi manusia di dunia ini
yang tak bisa terlepas dari aksi-reaksi
Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang diatas...kadang dibawah
Mencari puzzle hikmah dalam tempaan kehidupan dunia
Berharap ridho dari Allah Sang Pencipta
Puji, caci, cinta, benci
Jujur, dusta, sayang, dengki
Benar, Fitnah, rela, iri
Jumpa, pisah, datang, pergi
Dinamika kehidupan dalam pasangan aksi
Terjadi dalam kehidupan sehari-hari
Tindakan ditabur saat ini
Balasan dituai di hari nanti
Kebaikan.... akan mendatangkan pahala
kejahatan....akan mendatangkan dosa
Itulah balasan bagi tindakan manusia
Dari Allah yang Maha Kuasa
Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang mendapat pahala...kadang berbuat dosa
Mengumpulkan amal dalam tempaan berinteraksi dengan sesama
Berharap karunia dari Allah yang Maha Pencipta
Terus ditempa di dunia...sampai ajal tiba...
Lalu menunggu di alam kubur... hingga kiamat tiba...
Diakherat dihitung amal perbuatannya
bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya.
RENUNGAN
Renungkanlah.Siapa yang tau sampai kapan kita hidup?!
Siapa yang tau berapa lama lagi kita harus menebus semua dosa?!
Siapa yang tau takdir apa yang akan terjadi pada kita?!
Siapa yang tau setelah mati kita akan ditempatkan dimana, surga atau neraka?!
Siapa yang tau apa yang akan terjadi besok?!
Apa kita masih dapat berjalan seperti hari ini
Apa kita masih bisa membaca seperti saat ini
Kegembiraan yang kita rasakan dapat langsung berubah hanya dalam satu kedipan
Seberapa besar kuasa manusia tuk melawan kata ”kun”
Hanya dengan 0.005 detik atau bahkan kurang dari itu semua dapat terjadi
Harta, nyawa dan segalanya menjadi tak berarti dan kan lenyap tanpa kompromi
Apa yang dapat diperbuat manusia?!
Membayangkan saja tak sanggup.
KETAKUTAN MANUSIA
Saat mataTak mampu lagi menahan kelopaknya,
Muncul keinginan tuk tidur dan bermimpi
Namun takut..takut..takut..,
Tiba- tiba perasaan itu muncul lagi,
Ku tak sanggup menyadari bahwa ku kan tertidur.
Doa dan terus berdoa
Dengan pengetahuan yang yakin,
Ku sadar hanya meminjam raga tuk hidup
Namun dengan keyakinan pula ku tak mampu
Membayangkan jika hari ini adalah hari terakhir ku di dunia,
Maka mungkin tak kan cukup amal ku tuk masuk surga
Ketakutan membuatku berfikir
Jika aku mengetahui hari ini adalah hari terakhir
Maka tiap detik kesempatan, akan aku gunakan ’tuk menebus dosa
Namun jika aku tidak mengetahui bahwa hari ini adalah hari terakhir
Maka akan ku sesali setiap waktu ku yang terbuang percuma
Takut...takut..takut sungguh ku takut
Aku tidak akan mengetahui kapan hidupku kan berakhir
Ku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk hidup ku
Tak kan kusia- siakan keringanan satu hari, satu menit bahkan satu detik untuk ku
Berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik
Hingga saatnya tiba,
Ku kan siap dan ikhlas tuk menerimanya
Dari ketakutan yang aku rasakan
D
ari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian tahu siapa orang yang mengalami kebangkrutan (muflis) itu?” Para sahabat yang ditanya menjawab, “Orang yang bangkrut itu adalah yang tidak memiliki uang dan kekayaan”. Rasulullah menanggapi, “Seorang yang muflis dari umatku ialah yang mempunyai simpanan pahala shalat, puasa, dan zakat namun ia telah menghina seseorang, memberi tuduhan kepada orang lain, mengambil harta bukan miliknya pernah membunuh, dan memukul si ini dan itu. Ia akan disidangkan di hadapan peradilan Allah, dan diberi hukuman sepadan dengan kesalahannya, yang mengurangi kebiujakan-kebijakannya. Apabila kebajikan-kebajikannya dikurangi sampai habis sebelum dapat menutup dan melunasi kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, kesalahan-kesalahan orang lain ditimpakan kepadanya, sehingga ia dimasukan ke neraka”. Tirmidzi berkata, “Hadits ini termasuk hasan sahih”.Dari beliau juga diriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda, “Allah memberikan rahmat-Nya kepada seseorang, yang dulu dianiaya kehormatannya dan hartanya diambil secara tidak sah oleh orang lain. Orang yang menganiaya dirinya datang kepadanya untuk minta maaf sebelum diambil --yakni bukan uang atau kekayaan, melainkan pahala kebajikan-kebajikannya darinya kepada si teraniaya. Jika kebaikan-kebaikan yang ada padanya telah habis, dosa-dosa si teraniaya itu ditimpakan kepadanya”. Tirmidzi berkata, “Riwayat ini termasuk hadits hasan sahih”.
Dari Abu Hurairah juga, bahwa Rasulullah SAW memperingatkan, “Pada hari kiamat, hak-hak seseorang pasti akan ditunaikan, sampai-sampai peradilan domba yang tidak bertanduk yang mendapat yang mendapat kesusahan dari domba yang bertanduk. Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits-hadits Hasan Sahih. (Lihat: Jami’al-Tirmidzi, juz vii, halaman 98 hadits no: 1049 (Tuhfat al-Ahwa))
Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Apakah kalian tahu” atau bisa diartikan dengan “apakah kalian mempunyai pengetahuan akan” gaya bahasa disini menunjukkan bahwa Nabi ingin menyampaikan suatu pelajaran (al-irsyad), bukan hendak mencari tahu tentang kadar ilmu dari lawan yang diajak bicara (al-isti’lam). Konteks pembicaraan mengarah kepada penyampaian suatu pelajaran dapat dipahami dari sabda Nabi yang neggunakan kata-kata, “sesungguhnya yang disebut dengan muflis itu adalah ini dan itu. Fina dari antara umat Islam. Manla dirhama artinya adalah “yang tidak memiliki uang”. Huruf lam didalam kata lahu adalah bentuk prossesif adjective, yang menyatakan hak milik, Arti “(tidak) memiliki kekayaan” adalah tidak mempunyai sesuatu yang dapat dibeli dengan uang sehingga dapat menikmati kehidupannya, seperti: harta benda, peralatan rumah, perhiasan, dan lain sebagainya. Dari percakapan pada redaksi hadits diketahui bahwa pengetahuan lawan bicara Rasulullah masih dalam taraf pengetahuan yang umum mengenai alam dunia, tercermin dari kata mereka, “fina”. Mereka tidak mempertimbangkan obyek pembicaraan adalah tentang akhirat. Sepatutnya, mereka menjawab pertanyaan itu dengan “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” karena jawaban yang mereka ajukan adalah tentang al-muflis di dunia, yang sudah diketahui oleh Rasulullah SAW. Maksud sabada Rasulullah adalah al-muflis hakiki yang berada di akhirat. Min umati adalqah umat yang menerima agama yang dibawa oleh Rasulullah meskipun ia termasuk orang yang berduit dan memiliki banyak kekayaan di dunia. Seorang yang pada hari akhirat, mempunyai simpanan pahala shalat, puasa, dan zakat, yang telah dijalankan dengan baik sehingga menjadi shalat, puasa, dan zakat yang maqbul. Akan tetapi, mempunyai sifat-sifat “menghna seseorang”, “memberikan tuduhan kepada orang lain” yakni tuduhan bahwa orang lain itu telah berbuat zina, “mengambil harta bukan miliknya” dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syara’ , “pernah membunuh” tanpa alasan yang jkelas menurut syari’at, dan “memukul si ini dan itu” tanpa alasan jelas atau membalas pukulan dengan jumlah melebihi dari pukulan yang ia. Kesimpulannya, ia mencampuradukkan kebaikannya di dalam melaksanakan ibadah dengan perbuatan-perbuatan yang tercela. Ia akan disidangkan di hadapan peradilan Allah “diberi hukuman sepadan dengan kesalahannya dengan mengurangi kebajikan-kebajikannya yakni seperti penerapan hukum qishash. Imam Nawawi berkata, “Definisi muflis hakiki, bukan seseorang yang tidak berharta didunia atau memiliki harta yang sekedarnya. Predikat muflis didunia bersifat temporal karena akan terhenti bagitu saja setelah kematiannya, atau ia dapat berhenti menjadi muflis tidak lama setelah kondisi ekonominya meningkat pada suatu saat. Berbeda dengan muflis yang hakiki, yakni muflis akhirat, ia selama-lamanya merugi dan jatuh di dalam kebinasaan secara total.
“Pasti akan ditunaikan” di dalam redaksi hadits dari Abu Hurairah yang menunjukkan bentuk kalimat pasif. Kata “hak-hak” fungsinya di dalam kalimat adalah sebagai sibyek. Ini adalah riwayat yang mempunyai sandaran kuat untuk dijadikan hujjah. “Domba yang tidak bertanduk” yaitu biri-biri atau gibas yang belum tumbuh tanduknya. Dan adalah domba yang sudah bertanduk. Imam Nawawi berkata Domba yang tidak bertanduk kebalikannya adalah al-qarna’u.
Hadits secara ekplisit menjelaskan bahwa hewan-hewan juga dibangkitkan pada hari kiamat, seperti akil baligh yang menjadi obyek taklif dibangkitkan, anak-anak, orang-orang sakit jiwa, dan umat manusia yang belum sampai kepada dakwah para rasul. Makna ekplisit yang dipegangi ini didukung oleh nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman, “dan binatang-binatang buas ketika dikumpulkan” (QS. AL-Takwir: 5). Terdapat suatu kaidah yang menerangkan bahwa apabila Syara’ mempergunakan term, yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil syari’at dan nalr, untuk mengembalikan kepaa makna literalnya, sudah sepatutnya untuk mengamalkan dan merapatkan kepada makna literalnya itu.
Modal yang dibawa ke akhirat kelak tidaklah terhad kepada 3 jens pahala yang disebut di dalam hadis ini sahaja. Bahkan menurut Ibn 'Allahn al-Syafi'i dalam kitabnya, Dalil al Falihin, juga termasuk pahala amalan soleh yang lain. Ini bermakna segala kira bicara di akhirat kelak berdasarkan "mata wang dosa pahala".
Ketika itu nilai ringgit sudah tidak lakku, begitu juga riyal, dolar dan sebagainya. manusia yang besar modal pahalanya, dia akan bergembira dan bersenang lenang. Manakala yang kekurangan modal, pasti tercari-cari tempat bergantung yang sudah pasti tiada lagi. bertambah malang lagi apabila modal yang sedikit terpaksa dibayar kepada manusia lain yang pernah menjadi mangsanya di dunia dahulu.
Apakah yang terjadi apabila tiba-tiba dia kehabisan modal, sedangkan hutang yang dituntut masih bleum selesai?Maka ketika itu dipaksa pula oleh malaikat untuk memikul dosa mangsa. Sahlah dia telah muflis.
Apabila ditilik kembali kelima-lima dosa yang menjadi liabiliti di akhirat kelak semua berkait rapat dengan hubungan sesama manusia. Memaki hamun orang lain seperti pekerja, orang miskinorang lemah,apatah lagi isteri atau ibu bapa sendiri, hanya mampu memberikan kepuasan sementara kepada seseorang tetapi bahananya menanti di akhirat kelak. Begitu juga pemfitnah, dia begitu seronok melihat mangsa fitnahnya dibenci masyarakaat atau dikenakan tindakan tertentu di dunia, tetapi dia pasti menyesal apabila diminta membayar pahalanya kepada mangsa fitnah tersebut.Menyesal ketika itu tiada manafaatnya. Bak kata pepatah "Menyesal dulu pendapatan menyesal kemudian tidak tiada gunanya"
Ada juga yang memakan harta orang lain dengan cara yang tidak diredhai agama seperti menipu, pecah amanah, mencuri merampas dan sebagainya. Mereeka begitu licik di dunia ini tetapi kemanakah tempat untuk bersembungi apabila berhadapan dengan malaikat di akhirat kelak.
Ada yang berhutang dengan niat untuk tidak membayarnya, pencri mencuri harta majikan, majikan yang menyempurnakn gaji pekerja, peniaga yang menipu dalam urus niaga dan sebagainhya.Manusia yang seperti inilah yamg sangat layak mendapat title muflis di akhirat kelak. Begitu juga para samseng yang memukul dan melukakan orang lain bersedialah berhadapan dengan mangsa-mangsa anda di mahkamah Allah nanti kekuatan dan ruang di dunia ini hanya sementara, tetai ingatlah bahawa doa manusia yang dizalimi tiada hijab di hadapan Allah. Doa mereka mudah dikabulkan.
Bagaimana mengelak dari menjadi Muflis
Ada dua pilihan sahaja mengelakkan diri daripada diisytiharkan muflis diakhirat. Sama ada tidak melakukan melakukan dosa terhadap manusi lain atausekiranya telah melakukannya, mestilah memohon maaf dan redha daripada mangsa ketika di dunia lagi. Biarlah bersusah payah dan menahan malu ketika di dunia kerana ini lebih baik daripada diisytiharkan muflis di akhirat.
Sedarlah seseorang yang diisytiharkan bankrap di dunia, mereka masih ada kawan-kawan atau sanak saudara yang boleh memberi modal untuk memulakan perniagaan kecil-kecilan, tetapi apabila Allah yang telah mengisytiharkan muflis di akhirat, ke manakah lagi hala tuju kita, melainkan ke neraka...sebagaimana yang diungkap oleh Rasulullah saw."Ingatlah dosa memaki hamun hanya terhapus dengan cara memohon maaf daripada orang yang dimakinya. Begitu juga dengan memukul dan melukakan orang, Islam memberikan hak qisas (balas balik) kepada yang menjadi mangsa. Perbuatan fitnah pula disyaratkan memohon maaf dan mengistiharkan kepalsuan fitnah tersebut.'
Dosa kelima iaitu memakan harta orang, dia mestilah memulangkan balik nilai harta tersebut aatau mendapatkan redha mangsa.Mampukan kita lakukan semua itu? Jika tidak, jangan melakukan dosa!..******************************************
0 komentar:
Posting Komentar